Seandainya manusia punya seluruh dunia Ia pasti merasa dirinya berkuasa Mengharap hormat dari semua Berdiri angkuh mengangkat kepala Sungguh berbeda dengan Raja segala raja Pribadi yang adalah Pencipta Tak mempertahankan tahta-Nya Demi turun menyelamatkan yang binasa “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Ejek, cela, dan hina Engkau yang terima Padahal, Kaulah Pribadi yang bebas dosa Bahkan, tergantung di salib pun Kau tetap berdoa Agar kami yang jahat ini diampuni Bapa Mengapakah kami dikasihi begitu rupa? Hukuman maut harusnya kamilah yang derita Namun, Kaulah yang sungguh bersedia Memikul penderitaan dengan setia Kini, keangkuhanku pun telah hancur kurasa Ketika menatap pengorbanan-Mu yang mulia Yang mau rela menderita juga terluka Sebab, di mata-Mu aku ini Kau pandang berharga Betapa aku dipenuhi sukacita Sekarang segenap hidup aku bawa Dan, kurendahkan hatiku juga ‘Tuk mengikut En...
Oleh Elleta Terti Gianina , Yogyakarta Ketika aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, aku menganggap skripsi sebagai momok yang begitu menakutkan. Tatkala teman-teman seangkatanku begitu bersemangat untuk segera lulus, aku malah membiarkan waktuku selama satu semester pertama terbuang percuma tanpa hasil apapun. Waktu itu, di samping kuliah aku juga bekerja sebagai seorang copywriter di sebuah agensi iklan. Jam kerja yang padat setiap harinya membuatku tak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan skripsiku. Selain itu, masalah lain karena aku putus dari pacarku pun turut memperburuk keadaan. Aku jadi larut dalam kesedihan dan sibuk mencari pelarian bersama teman-temanku. Ketika ada waktu senggang, bukannya menyelesaikan skripsi, aku pergi pelayanan dengan mengajar anak-anak desa di Gunungkidul atau jalan-jalan bersama teman-temanku. Keadaan itu berlangsung selama beberapa bulan hingga akhirnya aku sadar bahwa skripsiku yang tak kunjung usai ini menyedihkan hati k...
Comments
Post a Comment